Tips Om Suroto (Inyonk BC) menjaga prestasi murai batu Wisanggeni


Murai batu Wisanggeni semula tak diunggulkan saat mengikuti gelaran Depok Bird Song Champhionship (DBSC) di Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, Minggu (13/3) lalu. Tetapi siapa sangka, gaco lawas milik Om Suroto dari Inyonk BC ini mampu menyodok ke peringkat pertama di kelas bergengsi BnR Indonesia.

Bukan hanya itu, murai batu Wisanggeni juga tampil menawan di Kelas BnR Depok, meski harus puas di urutan kedua. Kelas ini dimenangi CR-7, murai batu milik Om Baedy (Aligator).

Seperti disebutkan di atas, murai batu Wisanggeni merupakan gaco lawas, bukan burung debutan anyar. Sudah berkali-kali burung ini berganti kepemilikan, tetapi pemiliknya selalu personel Inyonk BC. Artinya, meski berpindah tangan, Wisanggeni masih menjadi amunisi klub tersebut.


Murai batu Wisanggeni

Murai batu Wisanggeni, gaco lawas yang tetap berprestasi.

“Saya membelinya dari teman satu tim, sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, burung dalam keadaan mabung. Sebelum saya beli, Wisanggeni sudah berprestasi dalam beberapa even lokalan,” kata Om Suroto ketika ditemui omkicau.com.

Cukup lama tak nampil, akhirnya Wisanggeni kembali ke performa terbaiknya. Om Suroto membawanya dalam even nasional Presiden Cup III di Jakarta (2014), dan masuk tiga besar. Suksesnya berlanjut dalam even Bupati Cup di Bogor, juara 1.

Beberapa even lokalan, terutama di sekitar Depok, juga berhasil dimenanginya. Prestasinya makin stabil tahun ini, terbukti dengan meraih double winner dalam even Kobac Cup di Jakarta serta juara 1 dan 2 di DBSC – Road to Presiden Cup IV.

Perawatan murai batu Wisanggeni

Bagaimana kiat Om Suroto dalam menjaga prestasi gaco lawasnya ini? Menurut dia, Wisanggeni sehari-hari dirawatnya sendiri, alias tanpa menggunakan jasa joki atau perawat. Hal ini menimbulkan kepuasan batin tersendiri.

Setiap pagi buka kerodong, kemudian burung langsung dianginkan. Setelah itu dijemur selama 2 – 3 jam, lantas dianginkan lagi.

“Habis itu, burung mandi dan dimasukkan ke kandang umbar yang panjangnya lima meter. Wisanggeni di kandang umbaran sampai sore hari. Selesai diumbar, burung dimasukkan sangkar harian, dikerodong untuk beristirahat sampai esok pagi,” jelas Om Suroto.

Kandang umbaran murai batu Wisanggeni

Om Suroto siap memasukkan MB Wisanggeni ke kandang umbaran.

Bagaimana dengan extra fooding (EF) sehari-hari? Setiap pagi, Wisanggeni diberi 5-7 ekor jangkrik serta kroto segar secukupnya. Sore hari, jangkrik kembali diberikan dalam porsi yang sama.

Meski perawatannya relatif sederhana, performa Wisanggeni selalu terjaga. Apalagi burung ini memiliki materi isian yang terbilang komplet, mulai dari suara cililin, kenari, serindit, cucak jenggot, dan lainnya.

Selain materi lagunya komplet, volume dan tembakannya kerap membuat lawan-lawan di sekelilingnya ngedrop. “Ada beberapa murai di rumah yang rusak, ngedrop, akibat sering mendengar tembakan yang disemburkan Wisanggeni,” kata Om Suroto.

Hal ini dibenarkan Om Wahid, rekan setimnya di Inyonk BC. Suatu ketika, Om Wahid menggantang cucak jenggot andalannya di sebelah Wisanggeni. “Tiba-tiba Wisanggeni bunyi sambil nembak mengeluarkan isiannya. Cucak jenggot saya sampai kelabakan, kayak stres,” ujar Om Wahid.

Om Suroto dan Om Wahid Riyadin

Om Suroto (2 dari kiri) bersama Om Wahid Riyadin (kanan).

Om Suroto berharap MB Wisanggeni bisa berprestasi dalam waktu lama, sehingga bisa mengharumkan nama Inyonk BC dalam berbagai even regional maupun nasional. Rencananya, Wisanggeni akan berlaga kembali dalam even Kapolres Tangsel Cup di Taman Tekhno / Taman Kota 2, Bumi Serpong Damai (BSD), 10 April 2016. (d’one)

Semoga bermanfaat.

Salam sukses, Salam Kicaumania.

Daftar jadi agen Bukalapak sekarang & dapatkan keuntungan tambahan!