Kenari, Burungnya Orang Kaya (Sejarah Masuknya Kenari di Indonesia)


Sejarah Masuknya Burung Kenari Ke Indonesia


    Cover Edisi 01Perkembangan peternakan kenari   yg pesat  dan  modern di negara  negara  Eropa terutama di Jerman,Belanda  dan  Inggris menyebabkan  timbulnya perdagangan  kenari  secara internasional. Dari Eropa di ekspor ke Amerika dan Kanada dan ke negara negara Timur,burung burung ini pusatnya di Singapura dan Hongkong. Dari sini menyebar ke negara Cina,Jepang dan Asia Tenggara.Maka dikenallah burung burung ini diseluruh dunia sebagai burung Internasional.

     Ternyata orang orang Cina lebih menggemari warnanya daripada suaranya.Warna kuning ciri khas kenari yg sudah ratusan tahun di ternakan di negara Cina.Kadang kadang  kenari kelahiran Cina yg kuning ini diluar negeri disebut ras Shanghai dan Hongkong  .Warna warna lain jarang sekali di dapat.

     Sebagaimana halnya dalam dunia perindustrian dalam bidang peternakan pun khususnya peternakan kenari dalam jangka waktu yg singkat Jepang sudah dapat menandingi peternakan kenari di negara negara Eropa.Maka disini dapat dicatat bahwa ternak kenari yg termaju untuk Asia adalah Jepang,Hongkong dan negara Cina.

     Begitu pun Indonesia burung  kenari ini dikenal sebagai burung  Eropa. Entah sejak kapan burung Eropa ini masuk ke Indonesia. Tetapi lama sebelum perang dunia ke II orang sudah banyak mengenalnya. Pembawanya sudah tentu orang  Belanda dan pemelihara nya juga terbatas hanya di kalangan mereka saja.pada umumnya bangsa kita hanya mengenalnya sebagai burung mewah,kalaupun ada yg memelihara mereka tergolong dikalangan orang orang kaya saja.Perlu dicatat sekitar tahun 1939 untuk seekor kenari penyanyi dari rasHarzer harganya mencapai lima belas sampai dua puluh lima gulden.sedangkan gaji  seorang klerk pd waktu itu hanya sekitar lima belas gulden sebulan.apalagi kalau kita bandingklan dengan harga padi yg harganya hanya lima gulden perkwintal. Dengan demikian pada masa itu burung ini mendapat julukan “burung milyuner”.Bahkan karena burung ini dari Eropa maka makanannya  pun  harus dari Eropa pula.Maka dari itu burung ini tidak mendapat perhatian dinegara kita jangan kan memeliharan ya yang mengenalpun  jarang.   

     Pada jaman Jepang burung  monopoli  orang Belanda ini  dianggap musnah.Ada lagi sekitar tahun 1949 dengan masuknya beberapa burung impor ke Jakarta,Bandung dan Surabaya.tetapi makanan burung  ini masih tetap menurut resep makanan dijaman kolonial yaitu bijian impor.Karena itu tidak heran hanya orang tertentu saja yg memeliharanya.Mereka  tidak ingin mencoba memberi makan  biji bijian yg ada disini,mungin karena takut merosot nilainya sebagai burung mewah.             

     Empat tahun kemudian kota Semarang menyusul yaitu sekitar tahun 1952 peternakan di kota ini dimulai satu dua orang dan dalam jangka waktu lima tahun saja sudah mulai populer dan mulai mengekspor hasil  ternaknya ke kota kota lain.

      Pemelihara di kota semarang mencoba memberi makanan burungnya dengan  berupa biji lobak,biji sawi,jewawut dan bibi  kecil lainnnya disamping makanan aslinya dari Eropa,dan ternyata bijian ini dimakan pula tanpa mengganggu kesehatan atau pembiakannya.

Mulailah resep makanan kolonial dikesampingkan karena di anggap terlalu mahal dan susah didapatnya.Mungkin karena penemuan inilah yg menjadi salah satu faktor pendorong perkembangan ternak kenari dikota Semarang.

     Setelah umum mengetahui betapa mudahnya beternak burung ini,maka kian hari kian bertambah hasrat untuk beternak atau sekedar untuk memelihara,Mulailah tampak pasaran nya dan dengan sendirinya permintaan akan burung ini makin lama makin deras,sedangkan jumlah barangnya sangat terbatas.Produksi burung kenari selain ditentukan oleh kecakapan beternak juga tergantung kepada alam.Populerlah nama burung Eropa ini dengan menanjak namanya maka sudah tentu harganya pun naik dengan pesatnya.Maka berkumandanglah suara publikasi mengenai warna burung yg jarang didapat dan cukup indah ;merah,roodagaat,roodbruin kata mereka inilah yang paling top.

    Ebod-Canary Kini burung kenari tidak hanya dipelihara oleh mereka yg benar benar hobby memelihara burung,tetapi  dipelihara juga oleh mereka yg tidak mempunyai dasar itu,dengan alasan untuk mencari untung.Sesuai dengan tujuan nya yg bersipat komersil maka diproduksilah burung burung yg mempunyai warna bulu yg paling banyak permintaan nya dah harganya tinggi di pasaran yaitu hanya satu macam warna saja merah dan merah…Karena tujuannya hanya bersifat komersil maka pd waktu itu tidak ada peternak yg menyelidiki khusus tentang penyakit,pembiakan, makanan yg sehat dan bermutu,ataupun keindahan suaranya.yg terpenting hanya penciptaan warna warna bulu yg populer itu.Bahkan warna warna bulu yg sudah ada mulai musnah karena tidak dihiraukan orang.

      Kepopuleran si burung merah ini akhirnya berjangkit pula dari kota Semarang ke kota kota tetangganya.Sekitar tahun 1956 hinggaplah burung  Eropa ini dikota Jogyakarta,maka dimulailah sejarah perburungan kenari  di kota ini.dipelopori oleh seorang pedagang burung yg cukup terkenal.Yg diperdagangkan bukan hanya burung dewasa tetapi juga piyik  yg baru lahir yg berumur 15 hari,asal keturunan burung merah.tidak berlebihan untuk sepasang burung dewasa yg berbulu roodagaat atau roodbruin mencapai harga seperempat juta rupiah.atau sewa menyewa jantan untk dikawinkan selama satu miggu mencapai harga Rp 15 ribu.para peternak baik dari jogya,magelang dan terutama  semarang setiap bulan omzetnya mencapai tidak kurang dari seratus ribu rupih.  

     Apabila dibandingkan dengan kota Bandung dan Jakarta,peternakan kenari sejak tahun 1949 itu lumayan juga kemajuannya tetapi tidak sepesat kota Semarang dan Jogyakarta.Dikota Surabaya banyak pula yg menernakan burung kenari bahkan dapat mencapai produksi yg agak besar,tetapi hanya diternakan oleh orang  tertentu sajabelum meluas dikalangan rakyat biasa.Bahkan waktu pasaran di Semarang kosong,burung dari Surabaya yang mengisinya,begitu pula kota yg berdekatan dengan Semarang seperti Magelang,Purwokerto,Tegal dan Pekalongan.

     Sebenarnya di Jakarta pun banyak yg menernakan  kenari tetapi karena luasnya kota dan padatnya penduduk hal ini tidak beitu nampak sehingga sampai akhir tahun 1963 keadaanya biasa biasa saja. Anehnya untuk kota Bandung sangat ketinggalan padahal semula kota ini termasuk pelopor  yg mendatangkan burung burung import.

     Setelah kota Revolusi menjadi kota kenari,penyebaran ke kota kota lain sangat cepat ,hal ini dikarenakan banyak Wisatawan yg datang terutama dari Jakarta,Bandung,Malang dan kota kota lainnya.Sejak pertengahan tahun 1963 tampak beberapa ekor burung penyanyi terbang ke arah Barat.DI kota Kembang ini burung  ini sangat populer karena makanannya yg murah bulunya yg indah serta suaranya  yg merdu itu.Maka awal tahun 1964 kota Jakarta dan Bandung  dapat kita catat sebagai tahun permulaan dalam bidang perkenarian.Kearah timur burung burung ini mulai terbang menuju kota Solo dan Malang.

   “Canary Java”demikian sebutan kenari kita di negara Singapura,sudah mulai menarik perhatian pasaran di Singapura.Betapa tidak menarik karena kalau dibandingkan dengan  burung impor yg datang dari negara Jepang,Hongkong atau langsung dari negara Eropa,yg harganya mahal,makanannya sukar dan cuaca yg tidak cocok,karena cuaca sangat mempengaruhi kesehatanya.Beda dengan burung yg datag dari negara kita yg harganya murah,makanannya sudah dibiasakan dengan makanan yg sederhana juga cuaca sangat cocok,sehingga datang kesana burung burung kita tetap sehat sehat saja.

     Menjelang diumumkannya deklarasi  ekonomi yaitu sekitar tahun 1963 adalah puncak keemasan bagi burung kenari,tetapi begitu deklarasi ekonomi diumumkan,kegiatan spekulasi  dalam bidang perdagangan kenari  berhenti dengan serentak.hal ini sejalan dengan hancurnya sebagian besar manipuasi akibat deklarasi ekonomi.Hal ini berakibat pula pada peternak kenari yg tengah maju pesat terutama Semarang dan Jogyakarta mulai menurun.Beberapa peternak melelang burung burungnya begitu saja atau membiarkan ternakannya tanpa perawatan yang sewajarnya. Akibatnya penurunan harga di ke dua kota ini makin terasa, tetapi golongan kenari yang warnanya  tidak mendapatkan perhatian pada jaman keemasannya, tahap demi tahap merebut pasaran karena di jual ke kota – kota yang baru mau memulai terutama Jakarta, Bandung, Solo dan Malang.

     Yang menjadi topik pembicaraan terbatas pada jenis – jenis kenari berjalur saja. Jadi yang pernah merajai dengan menduduki tempat tertinggi pada tahun 1963 itu adalah kenari – kenari merah dari kelas berjalur melulu ( Rood Bruin, Black Red, Rood Agaat / Red Agate dll ).
bersambung

Ali Garut – Jurnalis Tabloid Ronggolawe

Daftar jadi agen Bukalapak sekarang & dapatkan keuntungan tambahan!